High Conservation Value / Nilai Konservasi Tinggi

Pada hari Rabu tanggal 2 April 2014, Badan Pengembang Konservasi Universitas Negeri Semarang mengadakan Workshop High Conservation Value / Nilai Konservasi Tinggi. Workshop dibuka oleh Prof Dr Dewi Liesnoor Setyowati MSi, Ketua Badan Pengembang Konservasi Unnes. Materi diberikan oleh Prof Dr Lilik Budi Prasetyo, Guru Besar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan – Ekowisata IPB, dengan moderator adalah Dr Margareta Rahayuningsih SSi MSi dari Unnes.

Pelaksanaan Workshop dibagi ke dalam 3 sesi yaitu: Sesi I : Dasar SIG dan Remote Sensing : Identifikasi dan Pengelolaan HCV, Sesi II: Ekologi Lanskap, dan Sesi III : Nilai konservasi tinggi/High conservation value.

Berikut adalah beberapa poin penting dari sesi tersebut:

Sesi I : Dasar SIG dan Remote Sensing : Identifikasi dan Pengelolaan HCV

  • Peta yang adalah penyederhanaan kondisi permukaaan bumi dalam bentuk hardprint/data analog, merupakan salah satu output dari SIG.
  • SIG bisa didefinisikan melalui 3 pendekatan yaitu pendekatan proses, kegunaan alat, dan data base.
  1. Pendekatan proses: seperangkat fungsi dengan kemampuan yang canggih, yang dapat digunakan oleh para profesional untuk meyimpan, menampilkan, dan memanipulasi/mengoreksi data geografis/spasial.
  2. Pendekatan kegunaan alat: seperangkat peralatan yang dipergunakan untuk mengoleksi, menyimpan, membuka, mentransformasi dan menampilkan data spasial dari sebuah kondisi geografis yang sebenarnya.
  3. Pendekatan data base: sebuah sistem pangkalan data (database) di mana sebagian besar data diindex secara spatial/geografis dan dioperasikan dengan menggunakan seperangkat prosedur yang ditujukan untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan data spasial/geografi.
  • Tahapan Pembangunan Data SIG:
  1. Pengumpulan data dan input
  2. Manajemen pangkalan data (database)
  3. Analisis data
  4. Output
  • SIG adalah tools yang penting bagi HCV karena bisa untuk menganalisa erosi dan sedimentasi.
  • Saat ini ada model SWAT  yaitu modelling hidrologi, yang bisa digunakan dalam Arcview. Tidak dianjurkan ke dalam Arcgis karena masih banyak bug nya. Dapat digunakan untuk menghitung water yield, polusi, dll.
  • Peta yang dapat dibeli dari BIG, maximum 1:25000, dengan beda kontur 12,5 m. Solusi jika menginginkan yang lebih detail lagi adalah melalui interpolasi.
  • Remote sensing is the science—and art—of identifying, observing, and measuring an object without coming into direct contact with it. Ilmu ini sangat penting untuk mendapatkan perkembangan informasi terkini.
  • Data digital direkam dalam bentuk regular grid of picture elements atau pixels.
  • Data disimpan dalam layer terpisah (channels atau bands), mewakili panjang gelombang yang berbeda. Tiap layer adalah gradasi warna hitam ke putih. Kombinasi 3 layer dapat memunculkan gambar berwarna.
  • Klasifikasi visual:
  1. Element order 1: tone, colour
  2. Element order 2: size, shape, texture, pattern
  3. Element order 3: site, association, height, shadow
  • Sebelum menentukan HCV, harus menentukan land cover terlebih dahulu, yang bisa dianalisa dengan menggunakan SIG dan remote sensing.

Sesi II: Ekologi Lanskap

  • Landscape is a heterogeneous land composed of a cluster of interacting ecosystem that is repeated in similar form through out.
  • Landscape ecology is the study of interactions between organisms and the environment (ecology) in land areas where local ecosystems and land uses are repeated in similar form (landscapes).
  • Elemen lanskap: patch, matriks, koridor, dan edge.
  1. Struktur lanskap dapat dilihat dari:
  2. Tipe element
  3. Dominansi/luas (size) element
  4. Jumlah tiap element (heterogenitas)
  5. Bentuk (shape)/size elemen
  6. Distribusi/arrangement
  • Struktur lanskap: interior belukar, edge belukar, edge hutan, interior hutan.
  • Contoh analisa ekologi lanskap, adalah dengan menentukan respon wildlife ke edge:
  • Respon tipe habitat: generalist, specialist species
  • Respon edge: exploiter, avooider species

Sesi III : Nilai konservasi tinggi/High conservation value

  • Definisi: kawasan/area yang mempunyai nilai konservasi tinggi (species, ekosistem, jasa lingkungan, sosial dan budaya).
  • Pertama kali dikenalkan oleh FSC melalui 10 prinsip pengelolaan hutan lestari, terutama prinsip no 9: maintenance of high conservation value. Prinsip ini diadopsi dengan cara:
  • Mengidentifikasi hutan bernilai konservasi tinggi yang ada di dalam kawasan konsesinya
  • Konsultasi publik dalam proses sertifikasi harus menekankan pada sifat-sifat konservasi yang teridentifikasi dan pilihan-pilihan pengelolaannya
  • Mengelola area hutan tersebut supaya dapat memelihara atau meningkatkan nilai-nilai yang teridentifikasi
  • Memonitor keberhasilan pengelolaan kawasan hutan itu
  • Bersifat voluntary/sukarela melalui sertifikasi. Mulai tahun 2012, HCV menjadi persyaratan semua sertifikasi yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga yang berbeda, tidak hanya yang dikeluarkan oleh FSC.
  • Tipe/jenis HCV/NKT:
  1. Keanekaragaman hayati (biodiversity)

Spesies endemik dan spesies jarang, terancam atau hampir punah, di tingkat global, regional dan nasional.

  1. Bentang alam (landscapes)

Ekosistem tingkat lanskap yang luas dan mosaik ekosistem yang penting pada tingkat global, regional dan nasional.

  1. Ekosistem

Ekosistem, habitat atau refugia yang jarang, terancam atau hampir punah.

  1. Jasa ekosistem

Kawasan yang menyediakan jasa-jasa lingkungan alami.

  1. Kebutuhan dasar manusia

Kawasan yang mempunyai fungsi penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat lokal.

  1. Identitas budaya

Kawasan yang mempunyai fungsi penting untuk identitas budaya komunitas lokal.

1 Comment

  1. Sungguh saya senang banyak lembaga yang peduli dengan kelestarian lingkungan hidup dan ekosistem penyangga kehidupan. Semoga dengan hadirnya insan-insan konservasi, maka Indonesia akan mememiliki kesempatan untuk menjadi negara panutan dalam melindungi, merawat, memelihara, memanfaatkan sumberaya alam dengan kebijakan dan moral. Insya Allah.
    Salam Konservasi,

    Soewarno Hasanbahri
    Laboratorium AEkologi Hutan, Bagian Konservasi Sumberdaya Hutan
    Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


16 − 6 =